Masak Sendiri vs Makan di Luar, Begini Cara Atur Keuangan yang Lebih Sehat

Pengeluaran untuk makan sehari-hari mungkin terlihat sepele. Namun, memilih antara memasak dan membawa bekal makan siang sendiri atau makan di luar dapat membuat perbedaan besar pada kondisi keuangan kamu, lho.

Sering kali alasan seseorang tidak memiliki tabungan atau dana darurat adalah karena pengeluaran harian dan bulanannya yang cukup menguras kantong. Seperti, cerita teman PINA yang bekerja sebagai karyawan di sebuah bank, Jeni (27), yang merasa gajinya selalu habis untuk membayar tagihan kartu kredit, cicilan rumah, asuransi kesehatan, dan biaya rutin bulanan lainnya. “Saldo tabungan gue aja suka susah ditambah gara-gara pemasukan habis buat bayar tagihan. Jadi, boro-boro bikin dana darurat atau berinvestasi, nih!” kata Jeni.

Jeni enggak sendiri, kok. Hasil survei kolaborasi UNICEF, UNDP, Prospera, dan The SMERU Research Institute (2021) menunjukkan 51,5% rumah tangga di Indonesia tidak memiliki tabungan. Sedangkan, survei Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) (2020) menemukan 46% responden di Indonesia memiliki dana darurat hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama satu minggu.

Padahal, bisa, lho, kamu atur keuangan pribadi untuk menabung atau berinvestasi dengan memangkas satu bagian pengeluaran, yaitu makan di luar. Kelihatannya sepele, tapi hasilnya bermanfaat untuk kesehatan finansial kamu.

“Harga” Makan di Luar

Makan di luar atau di restoran memang praktis. Bagi karyawan yang sibuk dengan tugas kantor, makan di luar sering dilakukan saat istirahat makan siang. Padahal, pengeluaran yang membengkak setiap bulan—salah satunya—ya, karena sering makan di luar itu.

Sebuah survei dari VISA menemukan bahwa rata-rata seseorang menghabiskan US$20 (Rp280.000) per minggu untuk makan siang di luar. Sehingga, dalam setahun, pengeluaran seseorang untuk makan siang mencapai US$1.043 (Rp14.602.000). Bahkan, menurut survei yang sama, seseorang dapat tidak menyadari telah menghabiskan US$50 (Rp700.000) per minggu hanya untuk makan siang. That’s a big number.

Bagaimana dengan di Indonesia? Berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup oleh Biro Pusat Statistik (2018), pengeluaran untuk makan di restoran setiap rumah tangga di kota besar seperti Jakarta rata-rata sebesar Rp1.172.040 per bulan.

FYI, “rumah tangga” di sini tidak hanya bermakna satu keluarga, tapi juga satu orang yang mengatur keuangan dirinya sendiri. Jadi, iya, ini termasuk kamu para single.

Kamu mungkin berpikir, enggak mungkin, lah, hanya menghabiskan beberapa puluh ribu bisa menguras dompet? Coba hitung saja kalau kamu membayar Rp50.000 untuk satu kali makan siang di luar. Jika dalam seminggu kamu makan siang di luar sebanyak empat kali, kamu sudah menghabiskan Rp200.000 dan pengeluaran makan siang saja mencapai Rp800.000 per bulannya. Itu hanya makan siang, belum ditambah dinner cantik atau nongkrong bareng kolega untuk melepas lelah setelah jam kerja. Total angkanya mendekati hasil survei di atas, kan?

Baca Juga: Pentingnya Dana Darurat dan Langkah Menyiapkannya Mulai Sekarang

Mengapa Makan di Luar Mahal?

Harga makanan yang kamu bayarkan ketika makan siang di luar tidak hanya dihitung dari bahan-bahannya. Restoran sering kali menaikkan nilai menu yang dibuat hingga sekitar 300%. Jadi, harga yang tertera pada menu pun tiga kali lebih tinggi dari biaya pembuatan makanan tersebut.

Selain bahan-bahan makanan yang dipakai, harga menu restoran ditentukan juga oleh biaya penggunaan jasa karyawan restoran, peralatan masak dan makan, listrik, interior ruang, keamanan, dan lainnya untuk menjamin kenyamanan kamu.

Bahkan, lokasi restoran memengaruhi harga menunya. Jika restoran berada di area yang nilai tanah dan bangunannya selalu meningkat, harga makanan dan minuman yang kamu bayar juga bisa tinggi.

Misalnya, harga satu porsi (tiga potong) Vegetable and Prawn Fritters with Roasted Peanut Sauce--alias bakwan udang--di sebuah restoran di kawasan Sudirman adalah Rp58.000 (belum pajak).  Padahal, menu yang sama dapat kamu buat sendiri di rumah dengan biaya Rp8.000 per potong atau Rp24.000 per tiga potong. Dengan cara tersebut, kamu menghemat keuangan pribadi sebesar Rp30.000.

Pernah dengar istilah “beli suasana”? Ya, saat makan di luar, kamu lebih banyak membeli suasana makan, bukan cuma makanan itu sendiri.

Keuntungan Memasak Sendiri

Tidak hanya saat makan siang, memasak sendiri sarapan dan makan malam juga mampu menyelamatkan keuangan kamu. Jeni pernah bercerita bahwa setiap pagi, dia selalu membeli segelas kopi dan sepotong croissant senilai Rp40.000 di gerai kopi dekat kantornya untuk sarapan sebelum bekerja.

Untuk makan siang, Jeni membeli makanan di food court gedung kantor senilai Rp50.000—termasuk minuman—setiap kali makan. Selain itu, empat kali seminggu, Jeni akan makan malam di luar atau membeli makanan dari restoran, dengan bujet Rp60.000 setiap pembelian.

Jadi, dalam lima hari kerja, Jeni dapat menghabiskan Rp690.000 untuk makan di luar. Berarti, pengeluaran makan di luar Jeni mencapai Rp2.760.000 per bulan dan Rp33.120.000 per tahun. Pengeluaran makan di luar Jeni pun mengambil porsi 27,6% dari penghasilan tahunannya yang sebesar Rp120.000.000 per tahun.

Tabel I: Pengeluaran Makan di Luar Jeni

Jenis Pengeluaran

Biaya per Porsi

(RP)

Jumlah konsumsi per Minggu

Total Biaya Pembelian

(Rp)

Sarapan Rp40.000 5x Rp200.000
Makan siang Rp50.000 5x Rp250.000
Makan malam Rp60.000 4x Rp240.000
Total pengeluaran seminggu Rp690.000
Total pengeluaran sebulan (x4) Rp2.760.000
Total pengeluaran setahun (x12) Rp33.120.000

Bagaimana jika Jeni mengganti kebiasaan membeli makan di restoran dengan membuat bekal makanan sendiri? Coba Jeni buat sendiri kopi dan sarapan paginya, memakan bekal untuk makan siang, dan mengurangi frekuensi makan malam di luar jadi hanya sekali seminggu.

Perkiraan biayanya adalah Rp15.000 untuk membuat kopi dan sarapan sendiri, bekal makan siang sekitar Rp25.000, dan masak makan malam sendiri senilai Rp30.000.

Tabel II: Pengeluaran ketika Jeni Memasak Makanannya Sendiri

Jenis Pengeluaran

Biaya per Porsi

(Rp)

Jumlah Konsumsi per Minggu

Total Biaya Pembelian

(Rp)

Sarapan Rp15.000 5x Rp75.000
Makan siang Rp25.000 5x Rp125.000
Makan malam Rp30.000 3x Rp90.000
Makan malam di luar Rp60.000 1x Rp60.000
Total pengeluaran seminggu Rp350.000
Total pengeluaran sebulan (x4) Rp1.400.000
Total pengeluaran setahun (x12) Rp16.800.000

Setelah dihitung, pengeluaran makan Jeni menjadi hanya Rp16.800.000 per tahun. Dibandingkan dengan membeli makan di luar, selisihnya keduanya: Rp33.120.000 – Rp16.800.000 = Rp16.320.000. Selisih tersebut cukup untuk liburan ke Thailand, lho!

Selain itu, selisih pengeluaran tersebut jadi modal Jeni berinvestasi. Misalnya, Jeni mau berinvestasi pada reksa dana pendapatan tetap dengan bunga majemuk 7% per tahun. Perhitungan hasil investasinya seperti pada tabel berikut:

Modal Investasi

(Rp)

Tahun ke-

Jumlah Uang yang Ada

(Rp)

Hasil Investasi

(bunga 7%/tahun)

(Rp)

16.320.000 1 - 17.462.400
16.320.000 2 33.782.400 36.147.168
16.320.000 3 52.467.168 59.139.870
16.320.000 4 75.459.870 80.742.061
16.320.000 5 97.062.061 103.856.405
16.320.000 6 120.176.405 128.588.753
16.320.000 7 144.908.753 155.052.366
16.320.000 8 171.372.366 183.368.432
16.320.000 9 199.688.423 213.666.613
16.320.000 10 229.986.613 246.085.676

Dapat dilihat dari tabel bahwa dalam waktu 10 tahun, Jeni memperoleh hasil investasi sebesar Rp246.085.676. Cukup, nih, untuk jadi uang muka pembelian rumah! Ini bisa didapat Jeni hanya karena memasak makanan sendiri. Ternyata, meski hanya mengurangi satu hal yang simpel  seperti makan di luar, dapat menjadi cara mengatur keuangan untuk melunasi utang, mengumpulkan dana darurat, bahkan membeli rumah.

Bagaimana Kalau Pesan Antar?

Makan di luar tidak hanya dengan mendatangi restoran. Layanan pesan antar makanan bisa saja dikategorikan sebagai “makan di luar”. Pasalnya, kamu tidak membuat makanannya sendiri dan ada biaya pesan antarnya. Contoh, kamu mau membeli makan siang lewat aplikasi senilai Rp40.000. Maka, biaya yang dikeluarkan adalah:

Jenis Pengeluaran

Biaya

(Rp)

Paket 1 (makanan + minuman) 40.000
Jasa Pengantaran 12.000
Biaya Aplikasi 4.000
Biaya Restoran 5.000
Total 61.000

Jika dalam seminggu kamu delivery makanan tersebut sebanyak lima kali, total pengeluarannya adalah Rp305.000. Maka, dalam sebulan menjadi Rp1.220.000 dan setahun Rp14.640.000 hanya untuk satu menu makanan. Cukup besar, kan?

Cara Lebih Hemat

Pada dasarnya, seseorang makan di luar karena dua alasan, “buat senang-senang” atau “biar enggak repot”. Namun, kamu tetap bisa, kokmenghemat keuangan pribadi sambil menikmati kesenangan dan kemudahan tadi dengan cara-cara berikut.

1. Buat Senang-Senang

Bagi sebagian orang, makan di restoran atau food court bukan hanya untuk mengisi perut, tapi juga momen untuk sosialisasi dengan teman atau rekan kerja sekaligus mengurangi stres. Kamu tetap bisa melakukannya sambil mengatur keuangan dengan cara:

  • Sharing menu dengan teman. Porsi restoran kadang lebih besar dari porsi makan sehari-hari karena memudahkan pihak restoran memasang tarif yang tinggi.
  • Cek potongan harga. Browsing dulu restoran yang mau kamu datangi untuk melihat kemungkinan tawaran promosi atau potongan harga.
  • Skip tambahan menu. Pilih minuman yang standar atau tidak terlalu mahal. Appetizer atau desserts bisa dilewatkan karena tujuan utama kamu makan di restoran, kan, untuk menikmati suasananya.
  • Makan di taman. Tidak perlu ke restoran, cukup bawa bekal kamu ke taman atau ruang publik terdekat dan nikmati makan siang di sana untuk merasakan manfaat psikologis yang sama, tapi tidak keluar biaya lagi.

2. Biar Enggak Repot

Alasan tidak punya waktu atau terlalu ribet untuk memasak sendiri sering membuat orang memilih makan di luar. Menurut PINA, pemicu utamanya berasal dari kurangnya persiapan yang bisa bikin manajemen keuangan kamu berantakan. Hal ini dapat diatasi dengan cara:

  • Tulis dulu menu makan selama seminggu ke depan, sehingga tidak perlu bingung mau makan apa pada waktunya.
  • Siapkan menu semalam atau seminggu sebelumnya, lalu disimpan di freezer dan hangatkan ketika akan disantap.
  • Gunakan resep masakan yang simpel, sehat, dan murah, cek di internet, atau melihatnya dari video-video di YouTube.
  • Belanja bahan makanan sekaligus untuk menu selama seminggu tersebut. Jangan lupa, tulis rencana belanjanya dan jangan membeli barang di luar daftar tersebut.

Supaya enggak ribet dalam mengatur keuangan bulanan, kamu bisa, lho, mengatur bujet pengeluaran untuk makan dan belanja secara otomatis dengan fitur auto-budgeting dari PINA. Kamu juga dapat menyiapkan sendiri kantong-kantong pemasukan dan pengeluaran lain sesuai kebutuhan. Makin praktis lagi karena ada juga fitur untuk membuat rekening bank, e-wallet, hingga investasi kamu terkoneksi semua. Jadi, kamu bakal mudah memantau pemasukan dan menghindari pengeluaran berlebih yang akan mengganggu bujet keuangan per bulannya hanya dari satu aplikasi. Melalui review pemasukan dan pengeluaran, PINA akan memastikan pengeluaran kamu tidak lebih tinggi dari pemasukan. Kesehatan dan pengaturan finansial kamu jadi lebih terjaga, deh!

Membeli makan di luar atau memasak sendiri adalah sepenuhnya pilihan pribadi. Kamu tidak perlu menghindari makan di luar sama sekali, kok. But, do it with moderation and be smart with your money.

Pina

Pina

Content Writer Team