Tips Memulai Investasi Uang di Usia 20-an

Apa kelebihan mulai berinvestasi di usia muda? Tentu saja waktu. Makin cepat kamu mulai investasi, makin banyak waktu dan kesempatan untuk investasi kamu tumbuh. Jadi tunggu apalagi?

Ada satu hal yang PINA perhatikan ketika melihat media sosial belakangan ini. Selain unggahan mengenai croffle dan kopi susu yang menggoyang lidah, video-video TikTok yang mengocok perut, serta kekaguman teman-teman saya pada oppa Korea di K-Drama, banyak orangi mulai mengunggah soal investasi dan tips memulainya.

Perlu diakui, Gen-Z dan late Milenial saat ini jauh lebih mempedulikan keadaan finansial. Studi terbaru oleh Rave Reviews menunjukkan bahwa 64% Gen-Z mulai mencari tahu atau membahas rencana keuangan dengan sahabat mereka, dan 89% Gen-Z berkata bahwa membuat rencana untuk keuangan di masa depan membuat mereka merasa lebih empowered.

Ini pertanda baik. Sebagai generasi yang harus menghadapi pandemi—sebuah situasi yang belum pernah dihadapi oleh generasi-generasi sebelumnya dan sangat mempengaruhi ekonomi dunia—sudah sewajarnya bagi kita, para generasi muda, untuk mulai merencanakan finansial sejak dini, termasuk dalam hal berinvestasi.

Kamu yang saat ini di umur 20-an mungkin bertanya-tanya, “Apakah kita tidak terlalu muda untuk mulai berinvestasi?” Jawabannya, tentu tidak. Tidak ada kata “terlalu muda” dalam hal berinvestasi. Bahkan, semakin muda mulai berinvestasi,  semakin besar keuntungannya untukmu.

Malahan, 20-an merupakan umur yang paling tepat untuk mulai berinvestasi—bahkan mungkin menjadikannya sebagai prioritas utamamu. Nah, kalau ingin segera mencapai financial goal-mu, berikut merupakan panduan lengkap mulai berinvestasi di usia 20-an. Enjoy your journey!

#1. Pertama, tentukan dulu tujuan finansial kamu

Satu hal yang paling penting sebelum berinvestasi adalah mengetahui terlebih dahulu apa financial goal-mu. Dengan kata lain, untuk apa kamu berinvestasi? Apakah kamu sekadar mengikuti tren investasi seperti yang dilakukan oleh teman-temanmu agar tidak FOMO? Atau, kamu sudah membuat rencana keuangan dan sedang mencari cara untuk mulai berinvestasi?

Sebagai contoh, kamu bisa mencatat beberapa tujuan memulai investasi, misalnya a) Saya ingin memiliki uang yang cukup untuk pensiun nanti, b) Saya ingin memiliki rumah dengan uang hasil kerja keras saya sendiri, dan c) Saya ingin memiliki tabungan yang cukup untuk traveling selama sebulan penuh ke negara favorit.

Untuk membuat ketiga impian tersebut menjadi kenyataan, kamu tentu membutuhkan uang yang sangat banyak. Ya, kamu butuh lebih dari sekadar menabung, karena faktanya, nilai inflasi naik setiap tahunnya bahkan melebihi jumlah suku bunga yang kamu dapatkan dari tabungan di bank. Inilah mengapa kamu perlu berinvestasi.

Setiap orang tentu memiliki tujuan keuangan yang berbeda, misalnya menabung untuk menikah, membeli mobil impian, punya tabungan pendidikan anak. Apapun tujuan keuanganmu, berinvestasi merupakan salah satu pilihan yang bisa kamu lakukan untuk mencapainya.

Baca juga: Menabung atau Berinvestasi: Mana yang Perlu Kamu Lakukan?

#2. Jangan lupakan dana darurat

Salah satu tips sebelum mulai berinvestasi, kamu harus memiliki satu hal ini terlebih dahulu; dana darurat. Ada banyak orang di luar sana yang keliru mengambil langkah dengan memulai berinvestasi terlebih dahulu sebelum memiliki dana darurat yang cukup. Padahal, dana darurat adalah bentuk tabungan yang jauh lebih penting dibandingkan berinvestasi.

Pastikan kamu memiliki setidaknya enam bulan pengeluaran dalam dana daruratmu. Atau, untuk yang saat ini bekerja sebagai freelancer, kamu mungkin membutuhkan dana darurat yang lebih besar hingga satu tahun pengeluaran.

Kamu mungkin bertanya-tanya, “Ugh, apa, sih, pentingnya dana darurat? Nanti, kan, uangnya bisa didapatkan dari hasil investasi.” NOPE. Krisis finansial bisa terjadi kapan saja, pada siapa saja, dan di mana saja. Kamu tak bisa memprediksi kapan akan menghadapi kesulitan keuangan dan inilah mengapa kamu butuh mempersiapkannya selagi bisa. Jika sudah memiliki dana darurat, maka kamu tetap bisa lebih tenang saat krisis finansial terjadi, karena ada dana cadangan yang bisa kamu andalkan.

#3. Selanjutnya, lunasi utang-utang kamu

Selain harus memiliki dana darurat, kamu juga perlu melunasi terlebih dahulu seluruh utang dan cicilanmu sebelum mulai berinvestasi. Kalau baru saja lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan pertamamu, kamu mungkin belum memiliki utang dan bisa melewati tahap ini. Namun untuk kamu yang sudah mulai menggunakan kartu kredit untuk mencicil sepatu, tas incaran atau hal lain yang kamu perlukan untuk “mendekorasi” kamarmu (seperti TV baru atau game console baru, mungkin?), maka mulailah berinvestasi ketika sudah melunasi utang-utang tersebut. Percayalah, akan jauh lebih lega ketika kamu sudah tak lagi memiliki utang. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus menggunakan uangmu untuk tujuan yang lebih solid.

#4. Sekarang, kenali beragam jenis aset

Sudah memiliki dana darurat dan melunasi seluruh utangmu? Ahhh… akhirnya. Mari kita mulai perjalanan investasimu! Pelajaran pertama sebelum mulai membeli aset,  lebih baik pahami terlebih dahulu konsep alokasi aset. Begini, ketika berinvestasi, ada banyak sekali aset yang bisa kamu pilih. Nah, kamu disarankan untuk tidak memilih satu aset investasi saja. Alokasikan uang kamu di  dua aset (jumlah yang direkomendasikan bagi pemula) atau lebih.

Dengan berinvestasi pada berbagai aset, kamu sudah melakukan diversifikasi dalam portofolio investasi. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko. na Jika salah satu asetmu merugi, maka kamu tidak akan kehilangan seluruh uangmu, karena masih punya aset lain yang mungkin bisa “menutupi” kekurangan tersebut. Nah, proses menentukan dan menyusun aset-aset ini disebut dengan alokasi aset.

Mengingat kamu terhitung masih muda dan memiliki banyak waktu sebelum pensiun, kamu juga bisa menginvestasikan uang pada berbagai bentuk aset investasi. Perhatikan satu persatu, lalu pelajari mana yang terbaik bagimu. Masing-masing aset tentu memiliki level risk dan return yang berbeda-beda, dan mungkin populer di waktu-waktu tertentu.

Misalnya, ketika ekonomi sedang meningkat tajam, biasanya para investor akan merasa jauh lebih percaya diri, sehingga akan menarik seluruh aset mereka yang berada di pasar obligasi dan memindahkannya ke pasar saham. Sebab, potensi untuk mendapatkan return-nya lebih besar. Sebaliknya, ketika ekonomi sedang tidak terlalu baik, para investor biasanya merasa kurang percaya diri dalam mempercayakan uang mereka dalam pasar saham—karena terlalu risky—dan memilih pasar yang lebih aman, misalnya obligasi.

Kalau kamu sedang mencari bentuk investasi yang cocok untukmu, maka tiga aset utama yang terbaik untukmu di usia 20-an adalah stock atau saham (ekuitas), bonds atau surat obligasi, serta kas atau cash equivalents.

Baca juga: Minim Risiko, Ini Cara Menjadi Investor Pemula

#5. Saatnya mulai perjalanan investasi kamu

Perlu diingat, kamu mungkin perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum mulai berinvestasi; yaitu profil risiko, berapa banyak uang yang bisa kamu investasikan, serta tujuan finansialmu.

Sebagian investor muda lebih memilih bentuk investasi yang agresif meski resikonya besar, sedangkan sebagian lainnya lebih ingin mencoba aset yang stabil untuk permulaan. It’s up to you. Saran PINA, cek lagi profil risiko kamu--atau seberapa toleransi kamu menghadapi fluktuasi pasar yang dapat berisiko pada naik-turunnya return dari investasi tersebut. Berikut ini merupakan contoh alokasi aset yang banyak direkomendasikan bagi para investor muda.

Contoh alokasi aset di usia 20-an untuk jangka panjang, misalnya dana pensiun:

  • Saham: 90% dari jumlah investasi
  • Obligasi: 10% dari jumlah investasi

Nah, untuk financial goal-mu yang lain untuk jangka pendek, kamu bisa mengalokasikan uang pada aset investasi lainnya. Mari lihat beberapa contohnya:

  • Untuk biaya pernikahan. Mengingat waktu menabungmu untuk menikah tidak sebanyak untuk dana pensiun, maka memercayakan uangmu pada pasar saham bisa jadi terlalu berisiko. Ada baiknya kamu pisahkan 10% sampai 20% investasimu pada reksa dana atau ETF.
  • Untuk uang muka membeli rumah atau apartemen. Menurut Sentiment Survey yang dilakukan oleh rumah123.com, rata-rata masyarakat Indonesia membeli rumah pertama mereka di umur 29-35 tahun. Ini berarti kamu sebaiknya mulai menabung untuk membeli rumah di usia 20-an. Bicara soal berinvestasi untuk short-term goal, ada baiknya kamu tak nekat memilih investasi secara agresif. Lebih baik alokasikan 70% bujet membeli rumahmu pada aset yang lebih “ramah” seperti obligasi.

Jadi kalau kamu ingin berinvestasi untuk dua tujuan yang berbeda, misalnya untuk dana pensiun dan membeli rumah, maka pisahkanlah bujet untuk kedua tujuan tersebut. Lalu, mulai berinvestasi pada aset yang berbeda sesuai dengan tujuan finansialmu. Selama kamu konsisten berkontribusi pada investasimu, maka asetmu berkesempatan tumbuh dengan baik.

Di umur yang muda, kamu memiliki keuntungan terbesar yang tidak dimiliki oleh para investor di usia yang lebih mayang, yaitu waktu. Dengan adanya compound interest di “samping”mu, apa yang kamu investasikan saat ini dapat tumbuh dengan maksimal sampai kamu pensiun nanti. Mungkin akan ada momen-momen nilai asetmu menurun, but that’s fine. Kamu bisa terus melakukan review dalam investasi yang kamu jalankan, dapat menerima keuntungan yang lebih besar dibanding kerugianmu. Saran PINA, kamu dapat fokus berinvestasi pada aset yang agresif seperti saham selagi muda, dan sisihkanlah  sedikit uangmu pada pasar obligasi dengan  pertumbuhan yang lebih lambat. Yang tidak boleh ketinggalan adalah cermati juga tempat kamu mempercayakan uang kamu; apakah aset tersebut memiliki portofolio dan potensi pasar yang bagus. Trust us, you can thank us later.

#6. Jangan lupa untuk terus berinvestasi... dengan agresif

Kamu mungkin bertanya-tanya, “apakah aman berinvestasi pada aset yang agresif, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini?” Jawabannya, ya, tentu saja aman jika kamu mempercayakan uang pada aset yang memiliki portofolio dan potensi pasar yang bagus. Inilah kenapa mempelajari aset terlebih dahulu sebelum mulai berinvestasi itu juga penting. 

Kalau kamu menunda-nunda dan menunggu waktu yang tepat, kesempatan kamu mengembangkan aset tersebut akan makin kecil. Sejujurnya waktu yang tepat untuk memulainya adalah saat ini juga sehingga kamu punya lebih banyak waktu untuk memaksimalkan keuntungan dari compound interest.

Apalagi, jika tujuan finansialmu adalah investasi jangka panjang, seperti dana pensiun (yang memang sebaiknya kamu mulai di usia 20-an, percayalah), maka kamu bisa fokus berinvestasi pada aset yang agresif seperti saham. Meskipun risiko tinggi, saham juga memiliki kesempatan return yang tinggi juga. Ketika kamu harus menghadapi berbagai krisis keuangan, performa dari investasi saham bisa jadi opsi terbaik dalam menutupi kehilanganmu.

Salah satu teman merupakan contohnya. Ia pertama kali berinvestasi pada tahun 1975 di umur 20 tahun. Sampai tahun 2015 silam, pertumbuhan sahamnya tiap tahun adalah sekitar 11,9%! Ia berinvestasi sekitar 200 dolar setiap bulannya, dan kini sudah memiliki lebih dari 1,5 juta dolar di kantongnya, padahal modalnya hanya sekitar 96 ribu dolar. Meski ia sempat mengalami kepanikan akibat resesi dan nilai sahamnya kolaps beberapa kali selama 40 tahun terakhir, nilai sahamnya tetap tumbuh dan mampu memulihkan uangnya yang hilang selama periode tersebut.

Baca Juga: Lebih Cepat, Lebih Baik! Ini Alasan Mulai Investasi Selagi Muda

#7. Sabar adalah kunci saat berinvestasi

Salah satu sifat unik manusia, kita ingin segera melihat hasil investasi secepat mungkin, kalau bisa sekarang juga! Kita ingin melihat uang tumbuh berkali-kali lipat secepat mungkin! Padahal kenyataannya keajaiban dari compound interest baru akan terasa seiring berjalannya waktu. Kamu akan memiliki uang dalam jumlah yang sangat besar ketika pensiun nanti, namun kamu memang perlu menunggu dan melihat uangmu tumbuh sedikit demi sedikit. Kamu tak akan melihat banyak perubahan dalam waktu lima atau sepuluh tahun, but later in life.

Grafik berikut menunjukkan bagaimana aset saham seseorang tumbuh setelah tiga puluh tahun, dengan anggapan return yang ia terima tahunnya adalah sekitar 7%. Kamu bisa melihat bahwa 5 sampai 10 tahun pertama tidak menunjukkan banyak perubahan, bahkan perlu sekitar 18-20 tahun hingga aset investasinya tiba-tiba melambung tinggi.

How Compounding Works

Poin yang bisa kita pelajari adalah dibutuhkan waktu yang panjang untuk bisa mengambil “buah” dari investasimu. And that’s entirely normal.

Di bawah ini adalah grafik performa dari bursa efek Indonesia. Kamu bisa melihat dengan jelas bahwa terjadi beberapa kali resesi di tahun 2008, 2013, 2015, 2018, serta 2020. Namun lihat kembali titik akhir stock exchange-nya, semuanya kembali seperti semula dalam waktu beberapa bulan. Jadi tenang saja, kalaupun kamu mengalami penurunan, pasar saham akan kembali merangkak naik in the long run.

Manfaatkan usia 20-an yang kamu miliki saat ini

Umur 20-an adalah waktu yang penting dan paling tepat untuk memulai perjalanan finansialmu. Ini merupakan masa-masa yang paling tepat untuk membangun fondasi investasimu. Mulailah dengan membuat rencana keuangan, kemudian persiapkanlah dana daruratmu secepat mungkin dan lunasi seluruh utangmu. Mulailah berinvestasi dan nikmatilah keuntungan dari compound interest. Berusahalah untuk tetap konsisten berinvestasi. Memang, diperlukan waktu yang lama bagimu untuk bisa melihat uangmu tumbuh. But making the right decisions now can save you the headache of having to correct these things later.

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Pina

Pina

Content Writer Team