Strategi Mengelola Bonus dan THR agar Lebih Terasa Untungnya

Mendadak dapat uang banyak dari bonus dan THR? Bukan saatnya hura-hura, justru ini kesempatan untuk menjadikan kondisi finansial kamu lebih baik. Saran PINA, susun rencana keuangan dengan bijak agar uang kaget ini tidak menguap begitu saja tanpa dirasakan manfaatnya.

Bonus tahunan dan tunjangan hari raya (THR) memang bukan hal baru bagi para karyawan. Meski demikian, tetap aja, rasanya seperti ada durian runtuh setiap kali kamu mendapatkannya. Segudang rencana langsung terbayang di benak kamu, seperti beli baju baru, ganti gadget, makan-makan, hingga liburan.

Eits, tunggu dulu! Tenggelam dalam euforia rezeki tambahan ini justru bisa membuat bonus dan THR cepat habis tanpa jejak. Untuk mencegahnya, PINA sarankan kamu menyiapkan rencana keuangan untuk bonus dan THR ini. Dengan begitu, kamu dapat bisa memanfaatkan uang kaget ini dengan bijak dan memaksimalkan keuntungan untuk jangka panjang.

Pahami Bonus dan THR

Bonus dan THR bisa dibilang serupa, tapi tak sama. Bonus diberikan oleh perusahaan sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja karyawan dan tercapainya target dalam jangka waktu tertentu—biasanya, setahun. Waktu pemberian bonus disesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Ada yang diberikan pada akhir tahun, awal tahun, atau pertengahan tahun. Besarnya bonus bergantung pada kinerja perusahaan. Jadi, perusahaan boleh tidak memberikannya jika kondisi keuangannya sedang buruk.

Sedangkan, THR sifatnya wajib diberikan perusahaan kepada karyawannya karena telah diatur resmi dalam undang-undang. Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 20 Tahun 2016, THR diberikan kepada semua karyawan, tanpa memandang agama atau status pekerjaan, dan besarnya satu kali gaji atau proporsional sesuai masa kerja karyawan bersangkutan.

Adanya THR adalah untuk membantu meringankan pengeluaran pada hari raya keagamaan yang sering kali meningkat. Biasanya, THR diberikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Walaupun ada perbedaan, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan (PP Pengupahan), bonus dan THR termasuk dalam pendapatan non-upah. Artinya, keduanya diterima di luar pendapatan rutin bulanan.

Oleh karena itu, bonus dan THR dianggap juga sebagai pendapatan tambahan. Saat menerimanya, kamu mungkin merasa seperti kaya mendadak. Namun, tanpa perencanaan keuangan yang baik untuk uang kaget ini, kemungkinan kamu akan kembali miskin.

Baca Juga: Biar Tidak Boros, Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga

Kemana baiknya bonus dan THR dialokasikan?

Tentu saja, hadirnya bonus atau THR akan membuat kamu membayangkan banyak hal yang belum tentu bisa dipenuhi oleh pendapatan bulanan biasa. Kamu pun tergoda menggunakan pendapatan tambahan tersebut dengan royal. Hati-hati, bisa-bisa kamu malah terjebak masalah keuangan lagi!

Hal tersebut dapat kamu hindari dengan menyusun rencana keuangan untuk pemakaian bonus dan THR. Caranya, bagi alokasi uang menjadi beberapa pos pengeluaran seperti di bawah ini. Pembagian ini akan membantu kamu tetap menikmati bonus dan THR, sekaligus memberi keuntungan pada keuangan pribadi di masa depan.

Pos 1: Utang

Apa kamu masih punya utang? Catat dulu jumlah dan sumber utang yang kamu miliki. Kemudian, buat daftar prioritas utang mana yang perlu dilunasi terlebih dahulu, dari besaran tertinggi hingga terendah dan skala prioritas pelunasan. Sebaiknya, gunakan bonus atau THR untuk segera melunasi utang yang sifatnya tidak tetap dan berbunga tinggi, seperti tagihan kartu kredit atau pinjaman tanpa agunan.

Pos 2: Dana darurat dan tabungan

Selain sakit atau kecelakaan, kehilangan pekerjaan dan bencana (misalnya, banjir atau kebakaran) dapat jadi keadaan darurat lain. Dana darurat akan membantu mengatasi kebutuhan dadakan tersebut sehingga kamu tidak perlu berutang. Semakin besar jumlah dana darurat, sebenarnya semakin baik. Tapi setidaknya, jumlah dana darurat yang direkomendasikan adalah enam kali dari pengeluaran bulanan kamu. Oleh karena itu, bonus dan THR dapat jadi sumber tambahan untuk dana darurat. Simpan dana darurat dalam akun yang likuid, bisa dicairkan dalam waktu cepat, dan—kalau bisa—menghasilkan bunga.

PINA bisa membantu perencanaan keuangan untuk mewujudkan dana darurat tersebut. Dengan melihat berapa dan kapan dana darurat itu ingin dicapai, PINA akan memandu kamu mengelola uang pribadi melalui investasi yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial kamu.

Baca Juga: Pentingnya Dana Darurat dan Langkah Menyiapkannya Mulai Sekarang

Pos 3: Investasi

Hindari menggunakan bonus dan THR untuk memenuhi kebutuhan harian karena keduanya bukan pendapatan rutin. Lebih baik, pakai untuk keperluan jangka panjang, seperti berinvestasi. Pilih instrumen investasi berdasarkan tujuan keuangan, hasil, dan jangka waktu yang kamu inginkan.

Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, PINA Invest akan membantu mengelola investasi kamu. Dari mulai memilih investasi sesuai tujuan finansial dan toleransi risiko sampai memonitor portofolio favorit kamu untuk mengurangi risikonya. Cukup dari satu aplikasi, kamu sudah dapat melakukan transaksi jual-beli investasi dan review kinerjanya demi returns terbaik. Otomatis, praktis, enggak pake ribet!

Pos 4: Keperluan pribadi

Tentu, kamu boleh bersenang-senang dengan bonus atau THR, tapi setelah menyusun rencana keuangan untuk pos 1—3 di atas, ya. Kalau pos-pos itu sudah aman, kamu bisa mulai rencana untuk berbelanja baju, sepatu, sampai gadget dan perabotan baru, makan-makan di restoran yang lagi hip, staycation, atau liburan singkat lainnya.

Khusus untuk THR, umumnya digunakan untuk belanja kebutuhan pokok Idulfitri atau hari raya lain, berbagi THR dengan orang tua dan saudara, hingga mudik. Pastikan pembeliannya memang kamu butuhkan untuk hari raya tersebut dan buat daftar skala prioritas.

Yang pasti, tetap gunakan pos keempat ini sesuai bujet, jangan berlebihan, apalagi sampai membuat utang baru (big no-no!). Perlu diingat, hindari menggabungkan bonus dan THR dengan gaji bulanan agar penggunaannya tidak tercampur aduk. Gaji bulanan sebaiknya digunakan untuk pengeluaran rutin bulanan, bukan kepentingan hari raya atau momen setahun sekali. Jangan sampai ketika bonus atau THR habis, kamu mengambilnya dari gaji bulanan.

Pembagian Rezeki Tambahan

PINA ingat seorang teman PINA, Bobby (32), yang bekerja di perusahaan konsultan bisnis, pernah mengeluh THR-nya—sebesar Rp12.000.000—ludes dalam waktu dua minggu. Padahal, Bobby merasa sudah membuat rencana keuangan untuk THR-nya, tapi hanya tersisa sedikit untuk tabungannya.

Ada beberapa aturan pembagian anggaran yang bisa dipakai agar pengeluaran keuangan pribadi Bobby bisa lebih efektif.

50-30-20

Aturan 50-20-30 ini sering disarankan untuk pembagian anggaran bulanan. Tentu, cocok juga diaplikasikan untuk mengelola pendapatan tambahan. Pembagiannya adalah 50% untuk membayar utang, 30% untuk simpanan (tabungan, dana darurat, investasi), dan 20% untuk keperluan pribadi.

Tabel I: Aturan 50-30-20

Pos Pengeluaran Persentase (%) Jumlah (Rp)
Utang 50 6.000.000
Simpanan Tabungan

30

(pembagian sesuai kebutuhan)

3.600.000
Dana darurat
Investasi
Keperluan pribadi 20 2.400.000
Total 12.000.000

45-35-10-10

Ada kalanya pengeluaran untuk keperluan pribadi butuh alokasi yang cukup besar. Contohnya, selain untuk berbelanja, ada juga keperluan berbagi dengan kerabat serta membayar zakat. Kamu dapat mencoba aturan 45-35-10-10 untuk mengakomodasi berbagai keperluan pribadi tadi sambil tetap menyisihkan untuk simpanan dan investasi.

Tabel II: Aturan 45-35-10-10

Pos Pengeluaran Persentase (%) Jumlah (Rp)
Utang 10 1.200.000
Simpanan Tabungan

35

(pembagian sesuai kebutuhan)

4.200.000
Dana Darurat
Investasi 10 1.200.000
Keperluan Pribadi THR untuk orang tua dan saudara 20 2.400.000
Belanja hari raya 15 1.800.000
Zakat dan sedekah 10 1.200.000
Total 12.000.000

30-30-30-10

Jika ingin membagi rata antara pengeluaran dan persiapan masa depan, coba pakai aturan ini. Pembagiannya adalah 30% untuk keperluan pribadi (belanja hari raya, mudik atau rekreasi, berbagi THR dengan orang tua dan saudara), utang 30%, simpanan 30%, serta zakat dan sedekah 10%. Persentase antara kebutuhan pribadi serta dana darurat dan investasi seimbang.

Juga, ada alokasi khusus untuk zakat dan sedekah yang wajib saat hari raya—atau donasi biasa di luar momen hari raya.

Tabel III: Aturan 30-30-30-10

Pos Pengeluaran Persentase (%) Jumlah (Rp)
Utang 30 3.600.000
Simpanan Dana Darurat

30

(pembagian sesuai kebutuhan)

3.600.000
Investasi
Tabungan
Keperluan Pribadi 30 3.600.000
Zakat dan Sedekah 10 1.200.000
Total 12.000.000

90-10

Aturan ini PINA sarankan digunakan ketika kamu memperoleh bonus tahunan dan tidak memiliki utang yang cukup tinggi. Pembagiannya adalah 90% untuk tabungan, dana darurat, dan investasi, sedangkan 10% untuk keperluan pribadi. Dengan aturan ini, kamu memperlakukan bonus tahunan sebagai bonus pada keuangan kamu dan bukan untuk meningkatkan gaya hidup. Meski demikian, kamu masih bisa menikmati tambahan pendapatan saat itu juga.

Tabel IV: Aturan 90-10

Pos Pengeluaran Persentase (%) Jumlah (Rp)
Simpanan Dana Darurat

90

(pembagian sesuai kebutuhan)

10.800.000
Tabungan
Investasi
Keperluan Pribadi 10 1.200.000
Total 12.000.000

Itulah empat aturan pembagian pemakaian bonus dan THR yang dapat dipilih. Aturan pembagian tersebut bertujuan menjaga penggunaan bonus dan THR tetap terkendali. Yang pasti, jangan sampai pengeluaran melebihi batas kemampuan kamu.

Untuk memastikan pengeluaran kamu tidak lebih tinggi dari pemasukan, catat seluruh arus keuangan kamu di PINA. Ada kantong-kantong khusus yang telah disiapkan pada aplikasi PINA sehingga kamu dapat mengatur bujet secara otomatis sesuai kebutuhan. Tidak ada lagi pengeluaran berlebih, terhindar juga dari kata pusing dan ribet ketika membuat anggaran. Dengan PINA, bonus dan THR kamu bakal terpakai sesuai rencana keuangan yang sudah disusun!

Pina

Pina

Content Writer Team