Hindari Konflik, Ini Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga Setelah Menikah

Uang sering disebut-sebut sebagai salah satu pemicu konflik dalam kehidupan rumah tangga. Kamu dan pasangan sebaiknya sepakat dalam cara mengatur keuangan rumah tangga sejak awal pernikahan agar terhindar dari petaka tersebut.

Selamat atas pernikahan kamu dan pasangan! What’s next? Sekarang, kalian perlu membuat rencana cara mengatur keuangan rumah tangga. Keuangan lagi? Iya, dong, uang tidak bisa kamu kesampingkan dalam menjalani kehidupan pernikahan. Jika tidak sepakat soal keuangan, ini bisa jadi salah satu sumber pertengkaran dalam pernikahan dan bisa berujung perceraian kalau dibiarkan berlarut-larut.

Mengutip Lokadata.id, data dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, Republik Indonesia, menunjukkan bahwa 24, 41% perceraian di Indonesia  pada tahun 2020 terjadi karena konflik ekonomi. Pasangan suami istri yang bercerai tersebut sering berbeda pendapat mengenai manajemen keuangan rumah tangga.

Bahkan, pasangan muda sering lebih terbuka membicarakan soal seks daripada masalah keuangan. Seperti yang diungkapkan oleh Sheryl Garret, perencana keuangan sekaligus penulis buku “Getting Married”, bahwa banyak pasangan di awal pernikahan sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk menjaga hubungan tetap romantis, tapi lupa membicarakan sesuatu yang bersifat praktis, seperti keuangan.

Hal tersebut dibenarkan oleh teman PINA yang baru saja menikah, Indah (28), yang mengungkapkan bahwa dulu uang tidak jadi masalah, ketika ia masih berpacaran dengan suaminya sekarang, Rendra (30). Mereka bisa bersenang-senang tanpa memikirkan banyak hal.

Nah, setelah nikah, kita pengen cepat punya rumah sendiri, beli mobil, juga punya anak. Jadi, wajib mempersiapkan biaya ini-itu, mulai dari biaya kelahiran hingga pendidikan. Tapi, gimana cara memulai pembicaraan itu, ya?” kata wanita yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan logistik itu.

Masalah Keuangan Rumah Tangga

Tidak mudah memang terbuka bicara tentang keuangan pada pasangan. Namun, Indah dan Rendra—juga pasangan lainnya—bisa memulainya dengan membahas beberapa hal berikut yang sering jadi masalah dalam pernikahan.

1. Utang

Dalam hukum pernikahan di Indonesia, setiap harta benda yang diperoleh istri dan suami selama masa pernikahan menjadi harta bersama, sesuai ketentuan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan):

(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Harta bersama tidak terbatas uang atau aset lainnya, termasuk juga utang atau kerugian yang diperoleh selama masa pernikahan. Hal tersebut dinyatakan juga dalam Pasal 136 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPerdata”): “Semua utang kedua suami istri itu bersama-sama, yang dibuat selama perkawinan, harus dihitung sebagai kerugian bersama. Apa yang dirampas akibat kejahatan salah seorang dan suami isteri itu, tidak termasuk kerugian bersama.”

Oleh karena itu, setelah menikah, utang suami dapat menjadi utang istri dan sebaliknya. Riwayat utang tersebut terhadap bank dan lembaga keuangan--yang terdaftar dalam Biro Informasi Kredit Bank Indonesia--akan tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Jadi, jika pembayaran utang suami atau istri tercatat tidak lancar oleh SLIK, suami atau istri tersebut tidak dapat mengajukan kredit dulu sebelum utangnya lunas. Hal bisa jadi sumber konflik kalau tidak ada kesepakatan mengenai keuangan pada pernikahan.

2. Pemahaman finansial

Meskipun status sosial sepasang suami dan istri sama, belum tentu mereka memiliki keyakinan dan kebiasaan keuangan yang sama. Contoh, Rendra sejak kecil diajarkan untuk membeli barang berdasarkan prioritas dan bujet. Sedangkan, Indah terbiasa membeli barang berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan.

Jika keduanya tidak dapat memahami atau menyesuaikan diri, bisa timbul perasaan terkekang dan memicu konflik. Setiap orang sebaiknya mengetahui kepribadian uang sendiri—juga kepribadian pasangan—dan diskusikan perbedaan ini secara terbuka.

3. Perencanaan dan tujuan keuangan

Dalam perencanaan keuangan keluarga, perlu ada persamaan persepsi untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. Tujuan keuangannya tidak harus sama persis, sih, karena masing-masing pasti punya target pribadi yang mungkin ingin diraih. Namun, merencanakan masa depan bersama-sama bisa membantu mengatasi kamu dan pasangan saat ada tantangan keuangan yang menghadang.

Contoh tujuan keuangan yang perlu dibicarakan bersama adalah apakah beli rumah atau mobil dulu, menyiapkan dana pensiun dengan menabung atau berinvestasi, atau kapan mau punya anak, serta bagaimana dan berapa biaya pengasuhan anak—dari kelahiran hingga lulus kuliah—bagi pasangan yang ingin memiliki anak.

4. Perbedaan pendapatan

Meskipun stereotip gender dalam pernikahan (misalnya, gaji suami harus lebih besar dari istri) saat ini telah berubah, pendapatan lebih tinggi daripada pasangan yang lain masih sering jadi masalah. Pendapatan lebih tinggi kadang membuat seseorang merasa bekerja keras membayar tagihan. Hal tersebut bisa menjadikan dia merasa lebih punya “kuasa” tentang keuangan pernikahan dan mencoba untuk mengontrol pengeluaran pasangannya. Dampaknya, hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan dalam berumah tangga.

Baca Juga: Biar Tidak Boros, Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga

Pengeluaran Pascapesta Pernikahan

Berapa biaya pesta pernikahan kamu? 100 juta? 200 juta? Atau, cukup 50 juta? Berapa pun pengeluarannya, pertanyaan selanjutnya, apakah kamu dan pasangan sudah menyisakan dana yang cukup dalam tabungan untuk menjalani kehidupan rumah tangga?

Selain membuat anggaran untuk mengadakan pesta pernikahan tersebut, penting juga untuk merencanakan cara mengatur keuangan rumah tangga setelah menikah untuk menghindari konflik finansial. Kamu dan pasangan bisa membuat perkiraan komponen pengeluaran rumah tangga dan biayanya, seperti berikut ini.

Tabel I: Contoh pengeluaran pascapesta pernikahan dalam jangka panjang

Tipe Pengeluaran

(di Jakarta)

Estimasi Biaya

(Rp)

Rumah (per tahun 2020) *

 

Luas tanah 80 – 90 m2
1.200.000.000
Luas tanah 90 – 100 m2
1.400.000.000

Mobil (per tahun 2021)**

 

Honda Brio Satya S
153.400.000
Mitsubishi Expander GLS MT
237.900.000

Biaya Kelahiran Anak (per tahun 2020) ***

 

 

 

 

 

 

Tipe Kamar untuk Persalinan Normal:

 

 

VIP 10.000.000 – 30.000.000
Kelas I 7.000.000 – 25.000.000
Kelas II 5.000.000 – 23.400.000
Kelas III 3.000.000 – 21.100.000

Tipe Kamar untuk Persalinan dengan Operasi Caesar :

 

VIP 13.000.000 – 60.600.000
Kelas I 9.000.000 – 53.700.000
Kelas II 7.000.000 – 49.300.000
Kelas III 5.000.000 – 46.700.000
Biaya Pendidikan Anak (per tahun 2020) ****




TK   8.500.000
SD   61.100.000
SMP   88.960.000
SMA   171.300.000
Kuliah (8 semester)   124.400.000
Dana Darurat     60.000.000
Investasi (per tahun 2021)***** Beli saham BBCA (minimal pembelian 1 lot = 100 lembar; harga 1 lembar = Rp 7.500)   1.500.000 (2 lot)

Sumber:

  • *Rumah123.com
  • **Oto.com
  • ***The Asian Parent
  • ****CNBCIndonesia.com
  • *****IDX.com

Baca Juga: Tips Beli Rumah Sendiri Sebagai Pilihan Investasi di Usia 20-an

Sedangkan, untuk pengeluaran kebutuhan harian per bulan dapat kamu perkirakan berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup 2018 Jakarta berikut. Survei yang dilakukan setiap lima tahun sekali oleh Biro Pusat Statistik ini memperlihatkan rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga selama sebulan di Indonesia, salah satunya di Jakarta.  Perlu diingat, ya, besar biaya hidup tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pola konsumsi masyarakat dan inflasi.

Tabel II: Rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga selama sebulan di Jakarta

Kelompok Konsumsi

Rata-Rata Pengeluaran

(Rp)

Makanan, minuman, dan tembakau 2.807.363
Pakaian dan sepatu 777.855
Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2.898.957
Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 974.851
Kesehatan 359.555
Transportasi 1.590.544
Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. 850.956
Rekreasi, olahraga, dan budaya 314.873
Pendidikan 787.650
Penyediaan makanan dan minuman/restoran 1.172.040
Perawatan pribadi dan jasa lainnya 920.768
Total 13.455.613

(Sumber:  Bps.go.id)

Cara Mengatasi Masalah Finansial Rumah Tangga

Setelah mengetahui perencanaan keuangan rumah tangga seperti pada tabel di atas, saatnya membicarakan solusi masalah keuangan dalam pernikahan kamu. Kamu dan pasangan Anda hanya perlu mengingat hal-hal berikut ketika mengatur keuangan dalam pernikahan.

1. Diskusi keuangan

Tidak bisa tidak! Kunci dari hubungan pernikahan yang sehat adalah komunikasi. Selalu sempatkan untuk berbicara tentang manajemen keuangan rumah tangga dengan pasangan. Awali dengan berbagi tujuan keuangan pribadi dan bersama ke depannya. Lalu, bicarakan poin-poin meliputi evaluasi kondisi keuangan menyeluruh, terbuka mengenai penghasilan masing-masing, perkiraan pengeluaran rutin dan belanja kebutuhan bulanan, utang yang belum lunas, serta tabungan dan investasi.

Lakukan diskusi dengan hangat dan terbuka, hindari suasana tegang, serta  jangan menghakimi. Agendakan juga pertemuan khusus berdua untuk membicarakan tentang keuangan rumah tangga tersebut seminggu atau sebulan sekali.

2. Pahami perbedaan

Sikap dan prinsip pasangan kamu terhadap keuangan bisa dipengaruhi oleh situasi keuangannya di masa lalu. Misal, pasangan sangat membatasi keuangan karena keluarganya pernah mengalami situasi keuangan yang sangat sulit. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami atau berempati pada pasangan daripada selalu mengkritik kebiasaannya menggunakan uang.

Sisihkan waktu untuk saling membicarakan gaya pengelolaan keuangan yang berbeda tersebut. Jelaskan kebiasaan finansial kamu kepada pasangan—begitu juga sebaliknya.

Baca Juga: Menabung atau Berinvestasi: Mana yang Perlu Kamu Lakukan?

3. Buka rekening bersama

Rekening bersama merupakan penggabungan antara uang kamu dan pasangan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan perencanaan keuangan keluarga di masa depan. Adanya rekening bersama akan menimbulkan rasa saling tanggung jawab terhadap keuangan rumah tangga.

Pada rekening bersama, kamu dan pasangan menyimpan sejumlah uang yang besarnya telah disepakati. Jika kamu dan pasangan sama-sama bekerja, jumlah uang yang disetor sebaiknya sama. Cara ini untuk mencegah ada pihak yang merasa lebih berwenang pada keuangan rumah tangga—karena menyetor jumlah yang lebih besar. Oleh karena itu, rekening bersama bisa jadi solusi untuk perbedaan penghasilan dalam pernikahan.

Namun, masing-masing sebaiknya tetap memiliki rekening pribadi untuk digunakan membeli apa saja sesuai kebutuhan personal. Gunakan juga uang dari rekening pribadi tadi sebagai sumber pembayaran utang masing-masing jika memang masih punya utang pribadi yang belum lunas.

Nah, supaya mudah mengatur keuangan rumah tangga dan pribadi setiap bulan, kamu bisa membuat bujet untuk kedua hal tersebut dengan fitur auto budgeting dari PINA. Kamu dan pasangan bisa menyiapkan sendiri kantong-kantong pemasukan dan pengeluaran sesuai kebutuhan. Lebih praktis lagi dengan fitur yang membuat rekening bank, e-wallet, hingga investasi keuangan rumah tangga terkoneksi semua. Dengan begitu, kamu dan pasangan bakal mudah menjaga bujet keuangan rumah tangga per bulannya untuk menghindari konflik dengan pasangan.

4. Membuat perjanjian pranikah

Perjanjian pranikah dapat menjadi pengecualian terhadap ketentuan harta bersama, termasuk utang bersama. Kamu dan pasangan bisa sepakat--dengan landasan hukum--memisahkan harta dan aset masing-masing. Bahkan, kamu dapat membuat perjanjian setelah menikah atau postnuptial agreement mengenai pengelolaan harta tersebut. Perjanjian-perjanjian tersebut diatur dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No.69/PU-XIII/2015 yang menyatakan:

  • Perjanjian pisah harta secara tertulis dapat dilakukan sebelum dilangsungkannya atau selama dalam ikatan perkawinan dengan disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris.
  • Perjanjian berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ada ketentuan lain di dalamnya.

Banyak pasangan merasa kesulitan berbicara tentang cara mengatur keuangan rumah tangga. Namun, jika tidak dilakukan, akan lebih banyak lagi konflik pernikahan yang menghadang. Kembali mengutip Sheryl Garett, “Money is not a romantic subject, but when you are in a financial partnership with another individual, you need to step back and share what your individual goals, as well as what your collective goals are as a couple and for your family. That actually can be really romantic.”

Pina

Pina

Content Writer Team