Pina Indonesia

Berinvestasi dengan Asuransi Jiwa. Memang Bisa Begitu?

Asuransi Jiwa itu bukan investasi biasa, tapi melihatnya adalah sebagai bagian dari proses peace of mind di masa tua nanti. Asuransi Jiwa berfungsi selain sebagai proteksi diri juga sebagai investasi di masa depan.

Berinvestasi dengan Asuransi Jiwa. Memang Bisa Begitu?

Beberapa tahun terakhir, tren investasi memang lagi hype banget di kalangan anak muda. Saya sendiri masih ingat bagaimana generasi muda mulai melek investasi. Sekitar 3-5 tahunan yang lalu, saya ingat tren investasi di surat berharga negara begitu naik daun. Hal ini juga diikuti dengan masa fintech startup yang lagi naik-naiknya, kita jadi mulai mengenal tren investasi P2P lending yang juga populer pada zamannya. Setahun lalu, tren investasi di kalangan anak muda justru bergeser ke sesuatu yang sifatnya lebih high risk, yes, saat awal pandemi banyak yang coba-coba untuk mulai berinvestasi di saham, tren juga terus bergulir hingga Elon Musk muncul dengan tweet-nya yang berinvestasi di bitcoin dan menggemparkan dunia.

Kalau kamu salah satu dari orang-orang yang juga aware akan perjalanan 'tren' finansial ini, artinya kamu adalah salah satu orang yang sedang berjalan mencari jalan terbaik agar cepat mengarah ke kemerdekaan finansial.

Saya justru senang kalau dari usia muda orang-orang sudah melek akan hal ini. Namun, sebenarnya di balik investasi di sana-sini, ada satu hal penting yang seringkali dilewatkan dalam rangkaian perjalanan ini yaitu asuransi.

Asuransi seringkali dinomor-duakan karena dianggap nggak urgent, banyak yang berpikir: toh masih muda, belum waktunya untuk beli-beli plan asuransi, nanti kalau investasi di sana-sini sudah jalan, baru deh kita lirik-lirik asuransi. Iya atau iya?

Bukannya BPJS sudah cukup?

Alasan yang paling sering dipakai untuk menghindari pembelian asuransi adalah karena sudah ada BPJS. Alasan ini biasanya semakin didukung karena kantor sudah menyediakan asuransi kesehatan yang bisa dimanfaatkan setiap tahun untuk rawat jalan. Rasanya untuk sekarang, cover dari keduanya sudah lebih dari cukup, sehingga banyak yang masih enggan untuk memiliki asuransi.

Saya juga merupakan salah satu orang yang sempat 'menganut aliran' ini. Sampai saya melihat sendiri bagaimana sebuah penyakit bisa datang seperti seorang pencuri, yang mendadak bisa membuat kita kehilangan tabungan begitu saja. Asuransi kantor sendiri biasanya ada limitasi yang tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal jika kita membutuhkan biaya lebih seperti rawat inap.

Di satu sisi, memiliki BPJS sebagai asuransi kesehatan satu-satunya juga perlu dilihat lagi. Kita tahu biasanya proses klaim dengan BPJS tidak selalu berjalan mulus, apalagi untuk kondisi-kondisi darurat. Belum lagi, baik asuransi kantor maupun BPJS Kesehatan juga tidak memberikan uang santuan kepada ahli waris (keluarga yang ditinggalkan) jika pemilik asuransi meninggal.

Mempertimbangkan asuransi jiwa

Setelah paham dengan pentingnya untuk tetap memiliki asuransi pribadi, kini pe-er selanjutnya adalah memilih jenis asuransi yang harus dibeli.

Sebenarnya, asuransi jiwa bisa menjadi jenis asuransi yang bisa mulai kamu pertimbangkan untuk menjaga rencana keuangan jangka panjang agar tidak mengganggu golmu dalam mencapai kemerdekaan finansial. Jenis ini tentunya harus semakin dipertimbangkan apalagi bagi kamu yang menjadi tulang punggung keluarga dan ingin memberikan security di masa depan untuk keluargamu. Mengapa begitu? Pada dasarnya asuransi jiwa dapat memberikan benefit berupa uang pertanggungan.

Uang pertanggungan atau UP adalah sejumlah uang yang akan dibayarkan perusahaan asuransi jika terjadi suatu risiko terhadap ahli waris (keluarga yang kamu tinggalkan). Uang pertanggungan ini akan dicairkan jika pemilik asuransi meninggal dunia, dan akan diberikan kepada ahli warismu (biasanya keluarga).

UP tentunya akan berguna untuk memenuhi kebutuhan keluarga untuk membayar berbagai kebutuhan, melunasi utang yang masih berjulan (tidak hanya harta, utangpun akan otomatis diwariskan ke keluarga lho!), maupun pengeluaran harian yang bisa dimanfaatkan sementara anggota keluarga yang ditinggalkan mulai mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan. Kalau kamu saat ini sudah memiliki asuransi jiwa, ada baiknya kamu mengecek nilai pertanggungan yang diberikan oleh perusahaan asuransimu dan coba perhitungkan apakah nominal tersebut dapat mencukupi saat kamu meninggalkan keluarga suatu saat nanti.

Pada dasarnya, asuransi jiwa dibagi menjadi dua jenis:

  1. Asuransi jiwa seumur hidup (whole life insurance)
    1. Memberikan masa pertanggungan seumur hidup (biasanya hingga usia 99 tahun).
    2. Karena tidak ada jangka waktu, uang pertanggungan dapat diberikan di tahun berapapun pemilik asuransi meninggal dunia.
    3. Asuransi berkewajiban untuk memberikan uang pertanggungan kepada ahli waris sesuai kesepakatan di awal pendaftaran.
    4. Premi relatif lebih mahal, namun flat rate seumur hidup.
    5. Cocok bagi kamu yang ingin mewariskan sesuatu ke anak / anggota keluarga lainnya.
  2. Asuransi jiwa berjangka (term life insurance)
    1. Memberikan masa pertanggungan dalam jangka waktu yang ditetapkan (biasanya 20-30 tahun) 
    2. Uang pertanggungan dapat dibayarkan hanya jika pemilik asuransi meninggal dunia di rentang jangka waktu yang telah ditetapkan saat polis masih berlaku.
    3. Jika pada akhirnya kamu tidak memanfaatkan klaim asuransi ini hingga jangka waktu habis, maka perusahaan asuransi tidak berkewajiban untuk memberikan uang pertanggungan. Meski premi terlihat hangus begitu saja, sebenarnya hitung-hitung kamu sedang membayar peace of mind selama masa hidupmu. 
    4. Biaya premi relatif lebih murah, namun bisa meningkat setelah jangka waktu polis berakhir.
    5. Cocok bagi kamu yang ingin mendapatkan proteksi dalam jangka waktu tertentu, sementara  fokus untuk mengejar prioritas lain seperti mencicil KPR.

Yuk, yang sudah punya asuransi jiwa coba dicek lagi yuk polisnya, asuransimu kira-kira tipe yang mana. Kamu harus lebih teliti menelisik plan yang kamu miliki. Jangan sampai sudah keluar uang untuk bayar premi setiap bulan, eh ujung-ujungnya tidak menguntungkan. Jangan sampai terbuai oleh tipu rayu agen asuransi yang tidak berbicara 100% di depan, sehingga kamu kebingungan kenapa biaya premi meningkat atau kenapa tidak bisa klaim asuransi milik keluarga terdekat, dsb. Meski begitu, hindari buru-buru mengklaim bahwa agen asuransi penipu, karena kamu sendiri pun juga harus cerdas dalam memilah plan asuransi yang sesuai. Fair enough, ya?

Cara mengecek baik-buruknya plan asuransi yang sudah kita miliki

Baik buruknya plan asuransimu saat ini bisa dilihat dari apa saja biaya yang dicakup saat kamu mendapatkan risiko, misal: nilai uang pertanggungan bagi tulang punggung keluarga yang memiliki asuransi jiwa, manfaat rawat inap dan kesehatan bagi pemilik asuransi kesehatan ataupun asuransi jiwa yang disertai dengan tambahan manfaat tersebut, manfaat santunan penyakit kritis bagi pemilik asuransi penyakit kritis, dsb.

Di samping itu, kamu juga bisa mengecek baik-buruknya dengan melihat apakah manfaat pertanggungannya sudah sesuai dengan kebutuhanmu. Tidak lupa, karena esensi kepemilikan asuransi adalah agar rencana keuangan jangka panjangmu terlindungi, kamu juga harus melihat dari preminya. Cek lagi apakah premi bulanan / tahunan yang kamu bayarkan tersebut sejalan dengan kemampuan membayarmu. Jika ujung-ujungnya pembayaran premi hanya membebani karena tidak sesuai dengan arus keuanganmu, well, mungkin kamu harus beralih ke plan yang lebih terjangkau (solusinya bukan tidak memiliki asuransi lho ya!).

Perlahan saat kemampuan membayarmu sudah mulai mencukupi, kamu bisa melakukan upgrade plan asuransimu kapanpun.

Asuransi Jiwa = Kendaraan untuk Investasi, Benarkah?

Ini dia pertanyaan yang paling sering muncul kalau orang sudah mulai melirik asuransi jiwa: "Bisa sekalian return tinggi nggak ya dari asuransi jiwa? Lumayan buat bagi-bagi warisan untuk anak di masa depan."

Guys, jangan melihat asuransi jiwa sebagai investasi, ya. Biarlah asuransi tetap menjadi proteksi yang memberikanmu peace of mind di masa tua nanti. Anggap saja membayar premi asuransi setiap bulan sama seperti kamu membayar security yang ada di cluster perumahan / apartmentmu saat ini. Meski rutin membayar biaya security setiap bulan, tentu kamu tidak berharap rumah dibobol oleh pencuri supaya tidak merasa rugi, bukan?

Lalu bagaimana dengan investasinya? Well, memang betul sekarang ada yang namanya produk asuransi unitlink yang menawarkan produk investasi di dalam asuransi jiwa. Namun, kamu perlu ingat bahwa asuransi dan investasi merupakan dua hal berbeda. Investasi pada produk unitlink tidak bisa memberikan hasil yang besar.

Jika memang tujuanmu adalah meningkatkan dana atau mendapatkan return, ada baiknya kamu fokus pada instrumen seperti saham atau reksadana saja. Jangan pernah mencampurkan keduanya dan berharap mendapatkan the best of both worlds. Pada produk asuransi, fokuslah pada manfaatnya yakni mencari proteksi yang sebaik mungkin, bukan return.

Jadi sekarang sudah paham ya kawan-kawan? Asuransi jiwa bukan kendaraan untuk investasi ya.

Saya berharap banget di usia muda ini kita tidak hanya fokus meraup keuntungan sebanyak mungkin, namun juga aware lebih dini terhadap proteksi diri. Jangan tunggu sampai tua baru memulai, semakin tua kamu mendaftar premi asuransi akan semakin mahal, maka dari itu mulailah sedini mungkin. Pertimbangkan jenis asuransi jiwa mana yang cocok dengan kebutuhanmu agar nantinya dapat membantu melindungi perjalananmu dalam meraih kemerdekaan finansial. Di samping itu, jangan pernah berhenti belajar memahami instrumen lain maupun cara mengelola keuangan yang baik agar tujuan tersebut bisa tercapai!

Pina

Pina

Content Writer Team

Pina Indonesia